CONTOH PAPER ESTETIKA DALAM ARSITEKTUR

 

ESTETIKA DALAM ARSITEKTUR

 

CONTOH PAPER ESTETIKA DALAM ARSITEKTUR
 

 

 

 

 

OLEH :

 

ANGGA  ANUGRAH  MUKTI

E1B120031

 

 

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2020




 






KATA PENGANTAR

            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang  Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah–Nya sehingga  penyusunan tugas ini dapat diselesaikan.

            Paper ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Estetika   Bentuk dengan judul “Estetika Dalam Arsitektur” di Program Sarjana  Universitas Haluoleo, Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur.

Dengan  kerendahan  hati, penulis memohon maaf apabila ada kesalahan penulisan. Kritik yang terbuka dan membangun sangat penulis nantikan demi kesempurnaan Paper. Demikian kata pengantar ini penulis sampaikan. Terima kasih atas semua pihak yang membantu penyusunan dan membaca makalah ini.

 

Wassalamualaikum  wr.wb

 

Kendari, 6 Oktober 2020

Penulis

 

Angga Anugrah Mukti

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

Bab I Pendahuluan 1

Latar Belakang masalah 1

   Rumusan masalah 2

   Tujuan Penulisan 2

Bab II Pembahasan Masalah 3

1.    Definisi Estetika 3

2.    Sejarah Estetika 4

3.    Sejarah Estetika di Indonesia 6

4.    Estetika Dalam  Arsitektur 7

5.    Teori Estetika 8

5.1.        Teori Estetika Subyektif 8

5.2.        Teori Estetika Objektif 9

Bab III Penutup 11

1.    Kesimpulan 11

Daftar Pustaka 12

 








BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Estetika merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menciptakan keindahan bangunan yang kita ciptakan. Disamping dapat menarik perhatian orang banyak,estetika juga memiliki nilai yang tinggi dalam memotivasi orang banyak untuk melihat keindahan rumah.didalam filsafat estetika,ada permasalahan estetis yang berkenan yaitu:nilai estetis,pengalaman estetis,perilaku orang yang mencitakan,dan seni.

Estetika selain sebagai filsafat/teori estetik kadang-kadang juga dianggap sebagai ilmu yaitu ilmu tentang hal yang indah dan ilmu yang keindahan yang dapat dilihat oleh panca indra. Menurut Baumgarten,kata estetika berasal dari kata yunani yaitu aistetika (hal-hal yang dapat dilihat oleh panca indra) dan aisthetis (pengelihatan indra). Berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Jerome stolnitz yang berpendapat bahwa estetika sering dilukiskan penelahan filsafat tentang keindahan dan kejelakan.

Estetika dalam arsitektur merupakan seni visual yang menjadi nilai nilai yang dapat menyenangkan matadan pikiran,yaitu nilai bentuk dan ekspresi yang menyenangkan. Pada bangunan-bangunan yang akan dirancang,nilai estetis dapat dipancarkan dari 3 sumber utama yaitu

1.    sosok bangunan

2.    olahan tampak bangunan

3.    olahan lingkungan sekitar bangunan.

 

B.   Rumusan Masafah

1.   Definisi Estetika

2.   Sejarah Estetika

3.   Sejarah Estetika di lndonesia

4.   Estetika dalam Arsitektur

5.   Teori Estetika

5.1 Teori Estetika Subjektif

5.2 Teori Estetika Objektif

 

C.  Tujuan Penulisan

Paper ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Estetika Bentuk di Program Sarjana Universitas Haluoleo, Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

 

1.    Definisi Estetika

Istilah Estetika dipopulerkan oleh Alexander Gottlieb Baumgacten (1714  - 1762) melalui beberapa uraian yang berkembang menjadi ilmu tentang keindahan. (Encacta Encyclopedia    2001,      1999) Baumgarten menggunakan istilah estetika untuk membedakan antara pengetahuan intelektual dan pengetahuan indrawi. Dengan melihat bahwa stilah estetika baru muncul pada abad 18, maka pemahaman tentang keindahan sendiri harus dibedakan dengan pengertian estetik.

Jika sebuah bentuk mencapai nilai yang betul, maka bentuk tersebut dapat dinilai estetis, sedangkan pada bentuk yang melebihi nilai betul, hingga mencapai nilai baik penuh arti, maka bentuk tersebut dinilai sebagai indah. Dalam pengertian tersebut, maka sesuatu yang estetis belum tentu  indah  dalam  arti  sesungguhnya,  sedangkan  sesuatu yang indah pasti estetis. Banyak pemikir Seni berpendapat bahwa keindahan berhubungan dengan rasa yang menyenangkan seperti Clive Bell, George Santayana, dan R.G CoIIingwood.(Sutrisno,1993).

Terdapat beberapa pendapat mengenai definisi dari estetika sendiri, salah satu definisi yang cukup lengkap diberikan oleh Hoopers, ”aesthetics is the branch of philosophy that is concerned with the analysis of concepts and the solutions of problems that arise when one contemplates aesthetic objects. Aesthetic objects, in  turn, comprise all the objects of aesthetic experience; thus, it is only after aesthetic experience has been sufficiently characterized that one is able to delimit the class of aesthetic objects”( Sutrisno,1993. Hal 16).

 

Menurut para ahli definisi estetika adalah :

Ø  Pendapat Herbert Read

Herbert Read mendefinisikan bahwa keindahan adalah kesatuan dan hubungan - hubungan bentuk yang terdapat diantara pencerapan-pencerapan inderawi kita. Pada umumnya orang beranggapan bahwa yang indah adalah seni atau bahwa seni  adalah selalu indah, dan bahwa yang tidak indah bukanlah seni. Pandangan semacam ini akan menyulitkan masyarakat dalam mengapresiasi seni sebab ini tidak harus selalu indah, menurut pendapat Herbert Read.

Ø  Bnice Allsopp (1977)

Estetika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari proses-proses penikmatan dan aturan-aturan dalam menciptakan rasa kenyamanan.

Ø  J.W. Moris (1985)

Estetika estetika dikenakan pada obyek yang memiliki nilai indah atau tidak indah. (sering diperukarkan dengan seni/art). Estetika = Aesthetics Seni = Art

 

2.    Sejarah Estetika

Pengertian estetika dari suatu masa ke masa yang lain selalu mengalami perubahan. Beberapa pemikir estetika yang terkenal antara lain adalah Aristoteles dan Immanuel Kant. Aristoteles dalam Poetics menyatakan bahwa sesuatu dinyatakan indah karena mengikuti aturan-aturan (order), dan memiliki magnitude atau memiliki daya tarik.

immanuel Kant dalam The Critique of Judgement (1790) yang dikutip oleh Porphyrios (1991) menyatakan bahwa suatu ide estetik adalah representasi dari imajinasi yang digabungkan dengan konsep-konsep tertentu. Kant menyatakan adanya dua jenis keindahan yaitu keindahan natural dan keindahan dependen.

Keindahan natural adalah keindahan alam, yang indah dalam dirinya sendiri, sementara keindahan dependen merupakan keindahan dari objek-objek ciptaan manusia yang dinilai berdasarkan konsep atau kegunaan tertentu. Kedua pendapat tersebut di atas menunjukkan perhatian yang besar pada objek, di mana keindahan didapatkan karena suatu objek memiliki karakter tertentu sehingga layak untuk dinyatakan sebagai indah.

Perhatian yang besar terhadap objek dalam pemikiran tentang estetika tersebut memberikan pengaruh pada arsitektur. Pengaruh tersebut mengakibatkan munculnya aturan-aturan sebagai patokan untuk menyatakan keindahan suatu bangunan.

Alberti yang hidup pada masa Renaissance, dalam Ten Books on Architecture menyatakan bahwa keindahan suatu bangunan ditentukan oleh beberapa faktor (Porphyrios, 1991) seperti jumlah komponen (number) misalnya jumlah kolom, pelubangan dan sebagainya yang dinyatakan harus meniru alam, congruity, yaitu bagaimana menempatkan suatu komponen untuk membentuk keindahan secara keseluruhan, finishing dan collocation.

Pada intinya Alberti menyatakan sesuatu disebut indah karena meniru alam, dalam hal ini bukan hanya alam secara fisik, tetapi juga hukum-hukum alam. Hal ini dapat dilihat pada kolom-kolom Yunani yang berbentuk mengecil ke atas, yang dianggap sesuai dengan hukum alam. Alberti bukanlah satu-satunya orang yang mencetuskan standar dalam estetika arsitektur.

Andrea Palladio dan Brunelleschi juga banyak memberikan kontribusi bagi standar estetika dalam arsitektur masa Renaissance. Kebanyakan aturan-aturan yang berlaku pada masa tersebut menyebutkan aturan proporsi dalam angka-angka.

Golden section merupakan salah satu aturan proporsi dalam angka yang banyak digunakan dan dianggap sebagai representasi dari alam pada sekitar abad ke-18.

3.   Sejarah Estetika di Indonesia

Yuswadi Saliya (1999) menyatakan adanya empat ciri arsitektur tradisional di Indonesia, yaitu pertama, semuanya sarat dengan makna simbolik, kedua, rumah menjadi simpul generasi masa lalu dengan generasi masa datang, ketiga pemenuhan kebutuhan spiritual lebih diutamakan daripadda kebutuhan badani, keempat, dikenalnya konsep teritorialitas dan kemudian mengejawantah menjadi batas.

Ciri pertama dan kedua menunjukkan adanya kosmologi dan orientasi non badaniah, dan karena spiritual-lah yang diutamakan, maka kebutuhan badaniah cenderung akan dikorbankan demi kepentingan spiritual. Dalam hal ini manusia merupakan pihak yang harus melakukan penyesuaian diri terhadap bentukan arsitektur (Soemardjan, 1983). Orientasi terhadap kosmologi ini masih banyak dijumpai di Indonesia hingga masa kini, terutama pada arsitektur tradisional.

Hal ini bukan berarti bahwa semua arsitektur di Indonesia berorientasi pada kosmologi. Indonesia tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Pemikiran akan universalitas dan objektivitas Arsitektur Modern juga melanda arsitektur Indonesia. Seperti juga di Barat, fenomena arsitektur yang polos, tanpa ornamen dan tanpa konteks juga terjadi di Indonesia.

 Seperti juga arus modernisme, arus Postmodernisme juga melanda Indonesia. Sebagai akibatnya, terjadi kesadaran akan konteks dan perlunya identitas.Hadirnya Arsitektur Modern dan Postmodern secara bersamaan dengan (masih) hadirnya arsitektur tradisional menunjukkan adanya dualisme dalam arsitektur Indonesia. Arsitektur Modern dan Postmodern menunjukkan arsitektur yang berorientas pada kebutuhan badaniah manusia, sementara arsitektur tradisional Indonesia berorientasi kepada kosmologi dan spiritual.

4.   Estetika Dalam Arsitektur

Dalam arsitektur, estetika adalah sebuah bahasa visual, yang tidak sama dengan beberapa bahasa estetika yang tidak visual, seperti bahasa itu sendiri. Estetika dalam arsitektur memiliki banyak sangkut paut dengan segala yang visual seperti permukaan, volume, massa, elemen garis, dan sebagainya, termasuk berbagai order harmoni, seperti komposisi.

Teori Estetika Subyektif Menurut Herbert Read teori subyektif menyatakan bahwa sesungguhnya yang menyatakan ciri-ciri yang menimbulkan keindahan adalah tidak ada. Yang ada hanyalah tanggapan persaaan dalam diri seseorang dalam mengamati sesuatu benda.Keindahan memang subyektif, dalam diri setiap orang, pendapat tentang nilai estetika sebuah bangunan dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain:Subyektifitas diri sendiri.

Sensasi hanya dimungkinkan bila fungsi biologis tubuh kita yang berkaitan dengan fungsi sensasi dan persepsi dalam keadaan normal; misalnya mata bisa melihat, hidung bisa mencium, pikiran dalam keadaan normal/perseptif. Mampukah suatu obyek menggairahkan ‘limbic’ dalam otak kita sehingga merasa adanya kenikmatan saat berkontak dengan sebuah obyek arsitektural. Kenikmatan yang didapatkan itu menjadikan otak kita mengatakan sesuatu itu ‘indah’. pengaruh dari lingkungan/ masyarakat tentang apa yang disebut indah. Antara lain: pendidikan : apa yang ditanamkan dunia edukasi tentang keindahan, mungkin merupakan suatu pandangan yang ditekankan terus-menerus dan boleh jadi mengakar pada diri kita, serta metode untuk mengapresiasi suatu obyek juga merupakan suatu metode yang ditekankan secara terus-menerus.

Art Tower Mito, Mito City, Japan, Arata Isozaki

Sumber : Wikipedia

 

5.    Teori Estetika

5.1.      Teori Estetika Subyektif

Menurut Herbert Read teori subyektif menyatakan bahwa sesungguhnya yang  menyatakan  ciri-ciri yang menimbulkan keindahan adalah  tidak ada. Yang ada hanyalah tanggapan persaaan dalam diri seseorang dalam mengamati sesuatu benda

Keindahan memang subyektif, dalam diri setiap orang, pendapat tentang nilai estetika sebuah bangunan dipenganıhi oleh berbagai hal, antara lain:

·         Subyektifitas diri sendiri. Sensasi hanya dimungkinkan bila fungsi biologis tubuh           kita  yang  berkaitan  dengan  fungsi sensasi dan persepsi keadaan normal

·         Pengaruh dari lingkungan/masyarakat tentang apa yang disebut indah Antara lain:

·         Pendidikan; apa yang ditanamkan dunia edukasi tentang keindahan, mungkin merupakan suatu pandangan yang ditekankan terus-menerus dan boleh jadi mengakar pada diri kita, serta metode  untuk  mengapresiasi suatu obyek juga merupakan suatu metode yang ditekankan secara terus- menerus.

·         Opini yang berkembang di masyarakat. Kebanyakan melalui  media, estetika diperkenalkan sebagai konsensus dalam skala tertentu, apakah regional, kolonial, dan disebarluaskan dengan berbagai cara. Terkadang estetika yang diperkenalkan dimaksudkan untuk mendukung  sebuah industri terkait tren arsitektur, seperti industri perumahan. Estetika yang merupakan ideal suatu teritorial berbasis tradisi juga dapat memberi pengaruh teramat besar.

·         Pilihan yang diberikan oleh situasi, hanya pilihan yang memungkinkan akan

dipilih digunakan dalam rancangan

 

 

5.2.      Teori Estetika Objektif

Teori Objektif berpendapat bahwa keindahan atau ciri — ciri yang menciptakan nilai estetik adalah sifat (kualitas) yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari  orang  yang mengamatinya.

Kajian mengenai keindahan sebagai kualitas objek Seni telah dilanjutkan lebih sistematis dalam pendekatan modern tahun 1928 ketika matematikawan Amerika George David Birkhoff menipresentasikan persamaaimya;

M = O / C

Nilai keindahan = hasil dari keberaturan dibagi kompleksitas

M = ( measure )Nilai keindahan

O = ( order )Keberaturan

C = ( complexity )Kompleksitas

Dua elemen terakhir dari persaniaan Birkhoff memang dapat dihitung dan diberi angka. Seperti yang dipakai oleh Birkhoff sendiri, dirnana ia menguji persamaaimya pada suatu vas bunga, dengan jumlah elemen yang ter6atas ( hanya tenliri dari tiga garis lengkung), tingkat keberaturan yang rendah (disusun secara sinietris saja), maka nilai keindahan dari vas menjadi tidak tinggi ( angka kecil dibagi tiga ).

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

1.    Kesimpulan

Estetika  merupakan  kondisi  yang  berkaitan  dengan  keindahan  yang  dapat  dirasakan,  namun  keindahan  itu  baru  dapat  dirasakan  jika  terjalin  perpaduan  harmonis  antara elemen-elemen keindahan yang terkandung dalam suatu obyek. Pada dasarnya, estetika  merupakan  hal  yang  utama  dalam  suatu  kehidupan.  Estetika  sebagai  suatu  kondisi,   berkaitan   erat   dengan   keindahan   yang   dapat   dirasakan   oleh   seseorang (manusia),  dan  rasa  keindahan  tersebut  dapat  dirasakan  apabila  terjalin  perpaduan  yang   harmonis   antara   elemen-elemen   keindahan   tersebut   dalam   suatu   obyek.  Estetika   dalam   karya   arsitektur   memiliki   permasalahan  yang  lebih  kompleks.  Estetika  arsitektur  tidak  hanya  terkait  dengan  keindahan   yang   bersifat   visual   seperti   warna,   tekstur,   simetri,   harmoni   dan   lain   sebagainya. Namun terkait pula dengan beberapa faktor seperti faktor ekonomi, sosial, budaya, teknologi, ergonomi, antropometri serta faktor psikologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://hermansusantogamasera.blogspot.com/2014/04/estetika-teori-subyektif-dan-obyektif.html

file:///C:/Users/U%20S%20E%20R/Downloads/1687-4907-1-PB.pdf

https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-estetika/

file:///C:/Users/U%20S%20E%20R/Downloads/docdownloader.com-pdf-estetika-arsitektur-dd_730cac336f7d550f131cb5f8f89de37d.pdf

https://www.arsitekhijau.com/estetika-dalam-bangunan/

http://rizka-wigati-fib12.web.unair.ac.id/artikel_detail-97642-Umum-TEORI%20KEINDAHAN:%20Teori%20Obyektif%20dan%20Teori%20Subyektif.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 Responses to "CONTOH PAPER ESTETIKA DALAM ARSITEKTUR"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel